Resume materi day 2 PKKMB UNUSA 2025
Nama: Laili Ningsih
Asal: Madura
Umur: 18 tahun
Fakultas: Keperawatan dan Kebidanan
Prodi: S1 Keperawatan
• Materi 1
Pak Ainun Najib: Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan Ai, yang kita sebut Ai itu umum nya adalah chat gpt, jaminai, dan seterusnya. Dan saya yakin juga adik-adik jugasering menggunakan itu untuk keperluan sehari-hari, termasuk juga untuk keperluan akademik. Jangankan adik-adik yang sudah mahasiswa dan yang sudah pintar, anak-anak kecil di era zaman now pun seperti anak saya itu sudah sangat menggunakan Ai untuk belajarnya. Walaupun kadang dipakai untuk yang agak curang gitu misalnya dipakai untuk mengerjakan PR.
Seperti apasih early era saat ini? Banyak yang bilang bahwa kita sedang mengalami revolusi dan industri yang berikutnya. Jadi kalau analogi Ai yang paling disepakati saat ini tuh analoginya seperti era ditemukannya listrik waktu itu oleh Pinjamin Franklin. Munculnya Ai ini seperti munculnya listrik dalam kehidupan umat manusia sesuatu yang sangat masif. Dampaknya dan sangat menjadi katalis untuk inovasi dan perkembangan teknologi yang mengubah umat manusia.
Nah, itulah revolusi industri yang sedang kita alami saat ini, karena munculnya teknologi Ai lalu kemudian konteks nya dengan perguruan tinggi di era sekarang itu menjadi tantangan yang terbesar, tentu adalah bagaimana adik-adik ini bisa siap menggunakan teknologi ini dan tidak malah dirugikan dengan kehadiran teknologi terlalu memudahkan. Kuadran ini dibikin oleh Kaiful di tahun 2018 dia menulis buku Ai super power waktu itu dan 2018 itu sudah lama sekali sudah 7 tahun yang lalu dan dalam konteks perkembangan teknologi itu masa yang sangat panjang, karena beliefet or not chat gpt itu baru 3 tahun usianya. Bayangkan 7 tahun yang lalu jadi belum ada chat gpt, belum ada yang bisa diajak ngobrol, belum ada Ai saat itu sifatnya masih nero Ai sifatnya masih spesifik untuk tujuan tertentu saja misalnya rekomendasi vidio YouTube. Salah satu contoh, rekomendasi belanja estimasi rute seperti peta google maps biasanya yang ada saat itu adalah yang spesifik bukan yang generik yang bisa diajak ngobrol topik apapun bahkan bisa menjadi teman curhat. Kaiful sudah mengidentifikasi bahwa dalam jangka panjang itu makin canggih dan makin canggih sehingga hampir semua pekerjaan akan otomatis dan dieliminasi oleh Ai.
Kuadran ini adalah yang dipaparkan oleh beliau untuk membantu kita bagaimana kita bisa mengantisipasi dan beradaptasi di era Ai dan kuadran ini masih terus benar sampai detik sekarang ini masih terus akurat dan sepertinya yang paling bisa jadi pegangan untuk jangka panjang itu argumen beliau di dalam kuadran ini ada 2 hal yang se canggih-canggihnya, Ai tidak bisa menggantikan manusia SE canggih-canggihnya Ai dua hal ini tidak akan bisa tergantikan.Yang pertama adalah kreativitas kemampuan berfikir kreatif, kemampuan menciptakan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Kemampuan berfikir strategis, kecerdikan jadi itu kan bahasa Indonesianya kecerdasan buatan jadi dia itu cerdas, tapi dia belum cerdik. Nah, cerdik itu sepertinya menjadi ranah manusia kedepannya dan Ai mungkin tidak bisa secerdik manusia, tidak bisa berfikir strategis, berfikir kreatif, menciptakan sesuatu yang baru ide-ide yang baru yang belum ada sebelumnya.
• Materi 2
Prof. Dr. Haryono Umar, SE., Ak., M.Sc., CA : Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi
Korupsi adalah kanker yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia merampas hak-hak rakyat, menghambat pembangunan, dan merusak kepercayaan publik. Melawan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum atau pemerintah, tapi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia. Generasi muda adalah kunci dan harapan terbesar dalam membangun Indonesia yang bebas korupsi.
Mengapa Generasi Muda Sangat Penting?
Masa Depan Bangsa: Generasi muda akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang menentukan arah Indonesia di masa depan. Nilai integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi fondasi bagi kepemimpinan yang bersih.
Energi dan Inovasi: Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan penguasaan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem transparan, mengawasi penyelenggara negara, dan mengembangkan solusi anti korupsi yang inovatif.
Integritas: Senjata Utama Generasi Muda
Integritas adalah fondasi utama perang melawan korupsi. Bagi generasi muda, integritas berarti:
Kejujuran: Selalu berkata jujur dan bertindak jujur, dalam situasi apapun, baik di depan umum maupun di ruang privat. Tidak ada "kebohongan putih" dalam konteks integritas.
Konsistensi: Antara kata dan perbuatan selalu sejalan. Prinsip yang dipegang tidak berubah bergantung pada situasi atau tekanan.
Tanggung Jawab: Memiliki rasa memiliki terhadap tugas dan peran. Menyelesaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap imbalan yang tidak semestinya.
Keadilan: Memperlakukan semua orang secara adil, tanpa pandang bulu, dan tidak menggunakan jabatan atau kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau golongan.
Keberanian: Berani mengatakan "TIDAK" pada tawaran suap, gratifikasi, atau praktik koruptif lainnya. Berani melaporkan penyimpangan yang dilihat (whistleblowing).
Kemandirian: Tidak bergantung pada pemberian atau fasilitas yang tidak sah untuk mencapai tujuan. Berjuang dengan kemampuan sendiri.
Bagaimana Generasi Muda Menjadi Garda Terdepan Anti Korupsi?
Mulai dari Diri Sendiri:
Tanamkan Nilai Integritas: Jadikan integritas sebagai kompas dalam setiap tindakan, sekecil apapun. Jujur dalam ujian, tidak mencontek, tidak meminjam tanpa izin, mengembalikan barang temuan.
Tolak Praktik Kecil yang Mengarah ke Korupsi: Menolak pungutan liar (pungli), tidak menggunakan "jalur belakang" (koneksi) untuk mempercepat urusan, tidak memberi atau terima hadiah yang bisa mempengaruhi keputusan (gratifikasi).
Tantangan yang Dihadapi:
Budaya "Kenal Sama" dan "Cepat Selesai": Budaya yang mengutamakan koneksi dan jalan pintas masih kuat.
Ketidakpastian Masa Depan: Tekkan ekonomi dan persaingan kerja bisa mendorong beberapa pemuda mencari jalan mudah.
Pengaruh Lingkungan: Lingkungan (keluarga, teman, institusi) yang tidak mendukung integritas bisa menjadi penghalang.
Rasa Takut Melapor: Ancaman atau ketakutan akan dampak negatif jika melaporkan tindak pidana korupsi.
Kesimpulan:
Generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi agen perubahan sejati dalam memerangi korupsi. Integritas bukan hanya pilihan, tapi keharusan. Dengan membangun dan menjunjung tinggi integritas sejak dini, generasi muda dapat membentengi diri dari godaan korupsi dan menjadi garda terdepan dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan.
Mari generasi muda Indonesia bersatu:
Tanamkan Integritas dalam Jiwa.
Tingkatkan Kesadaran Bahaya Korupsi.
Manfaatkan Teknologi untuk Perubahan.
Berani Bersuara dan Bertindak.
Jadilah Contoh dan Inspirasi.
Indonesia bebas korupsi bukan lagi mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa diraih jika generasi mudanya memiliki integritas baja dan tekad baja. Kalian adalah harapan, kalian adalah perubahnya!
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya." (Ir. Soekarno) - Dan pahlawan anti korupsi masa kini dan masa depan adalah generasi muda yang berintegritas!
•Materi 3
KH Ma'ruf Khozin - PWNU Jatim: Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:
Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?
Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.
An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).
Ciri Khas:
Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).
Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).
Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).
Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah:
a. Penjaga Tradisi Keilmuan
Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.
Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.
b. Agen Moderasi Beragama
Sebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian:
Menolak radikalisme dan ekstremisme.
Membangun dialog antaragama dan budaya.
Menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).
c. Pejuang Kemaslahatan Sosial
Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak:
Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan).
Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).
Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.
d. Inovator dalam Tradisi
Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern:
Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam.
Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja.
Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.
Implementasi di Kampus UNUSA
Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.
Kegiatan Kemahasiswaan:
Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.
Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.
Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.
Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.
Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah
Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.
Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.
Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.
Kesimpulan: Mahasiswa UNUSA sebagai "Generasi Harapan"
Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk:
Menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi.
Mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat.
Mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, mereka menjadi jembatan antara warisan ulama Nusantara dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, beradab, dan berkepribadian Islam. Seperti dikatakan KH. Hasyim Asy'ari: "NU itu tugasnya nguri-uri (melestarikan) yang shalih dan ngembangke (mengembangkan) yang aswaja." Mahasiswa UNUSA adalah garda terdepan dalam misi ini.
link teman: https://avrillianza.blogspot.com/2025/09/resume-day-2.html
link Facebook: https://www.facebook.com/unusaofficialfb
link Instagram: https://www.instagram.com/unusa%20official/
link tiktok: https://www.tiktok.com/@unusa_official
link YouTube: https://www.youtube.com@unusa%20official/
https://unusa.ac.id/
Komentar
Posting Komentar